Minggu, 06 Januari 2008
Pengalaman Mengurus Perpanjangan SIM di Poltabes Samarinda
Tempat tes kesehatan ternyata baru buka sekitar pukul 9.00 WITA. Tidak ada antrian yang jelas, ataupun nomer urut antrian. Yang ada hanyalah kumpulan orang yang berebut agar dapat giliran tes duluan. Tampaknya ketidaksabaran masih menjadi ‘budaya’ orang Samarinda. Untuk sesaat sempat terlintas rasa malu menjadi warga Samarinda, haruskah saya berbudaya seperti mereka? Setelah mendaftar, saya pun menunggu giliran dipanggil. Tes kesehatan yang dimaksud ternyata hanyalah tes buta warna. Ada satu kejadian yang menarik perhatian saya. Entah kenapa, ada seorang pria yang diminta untuk menggambar ‘orang’ di selembar kertas kosong. Sebuah tes yang sangat familiar bagi saya, seorang mahasiswa psikologi, yaitu tes DAP. Yang membuat saya prihatin adalah tidak diperhatikannya administrasi tes DAP. Ruangan tes yang tidak layak dan meja sebagai alas menggambar yang tidak rata. Entah bagaimana dengan jenis kertas, jenis pensil dan keruncingan pensil yang digunakan, apakah sesuai dengan administrasi tes atau tidak. Tentu saja saya jadi berburuk sangka, dengan mempertanyakan berwewenangkah sang tester untuk melakukan tes DAP, dan apakah interpreter tes tersebut adalah seorang psikolog.
Setelah mendapatkan hasil tes kesehatan, saya pun melanjutkan proses perpanjangan SIM. Membeli formulir, lalu menunggu giliran untuk mendapatkan semacam kuitansi atau resi. Setelah itu saya mengisi formulir dan mengembalikannya lagi ke loket selanjutnya untuk menunggu giliran cek data. Setelah cek data saya mendapatkan nomor antrian untuk foto di ruang produksi SIM, dan kembali menunggu giliran dipanggil. Selama tiga kali menunggu tersebut –tidak termasuk menunggu giliran tes kesehatan-, saya berkesempatan memperhatikan orang-orang di ruangan tersebut. Ada seorang calo yang mengurus SIM untuk 7 orang. Ada seorang tentara, entah dari bagian mana, yang membawa 2 orang. Ada seorang Provost yang menguruskan SIM 1 orang. Belum lagi mereka yang dibantu oleh ‘orang dalam’. Pada umumnya proses yang mereka lalui cukup cepat, terutama yang dibantu oleh oknum Provost tersebut. Beli formulir, isi, langsung masuk ke ruang produksi SIM untuk foto. Begitu pula dengan mereka yang dibantu oleh ‘orang dalam’. Saya hanya berpikir, jika antrian saya terus menerus dilangkahi seperti ini entah kapan saya akan mendapat giliran untuk masuk ke ruang produksi SIM dan menunggu giliran untuk difoto. Seandainya saja dipisahkan loket ‘urus sendiri’ dan loket ‘diuruskan’, mungkin antrian di loket ‘diuruskan’ akan jauh lebih panjang.
Akhirnya sekitar pukul 12.30 WITA nomor urut saya dipanggil untuk masuk ke ruang produksi SIM bersama 9 nomor urut lainnya. Yang membuat saya heran adalah yang berkumpul di ruang tersebut untuk menunggu giliran difoto ada sekitar 30 orang. Syukurlah setelah tanda tangan, cap jempol, dan difoto, saya hanya perlu menunggu sekitar 10 menit untuk mendapatkan SIM A saya yang telah diperbaharui.
Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa. Tampaknya jika semua pelaku KKN dihukum mati seperti di Cina, Indonesia akan menjadi sepi.
Ferry Aldino
Warga Samarinda, sedang melanjutkan studi di Yogyakarta
Selasa, 02 Oktober 2007
Limitation for freedom of expression
Introduction
Topic : Limitation for freedom of expression
Information : The disadvantages of application freedom of expression
Background : Freedom of expression has been in wrong way
Thesis Statement : Because Freedom of expression has been in wrong way, it should be limited by government.
Content
Pro Argument
1. Freedom of expression has always been misunderstood as a freedom to give opinion without regarding others’ rights.
a. Many people become more selfish after Freedom of Expression was implemented
b. Many people think that they are completely right
c. They just like to speak not to listen
d. Every problem becomes difficult to get agreement and solution
e. Democration could not be implemented anymore
2. Most of people always make Freedom of expression as an excuse to do whatever they want.
a. Many irresponsible people justify their action.
b. They use violence
c. They make anarchism as a form of expression
d. They break public tools
e. Society becomes chaos
3. The implementation of Freedom of expression brings more bad impacts.
a. Demonstration
b. Pornography
c. Separatism
d. Violence
Counter Argument
1. Freedom could not be limited
2. We have ever felt how our freedom of expression was limited in Orde Baru
Refutation
1. Freedom doesn’t mean that we are free to do whatever we want without limitation
2. Orde Baru is the era when there is no freedom at all.
Solution
1. Government must give some understanding about how freedom of expression should be.
2. Government must limit freedom of expression.
Conclusion
Freedom of expression has been existing in
First, freedom of expression has always been misunderstood as a freedom to give opinion without regarding others’ rights. Many people become more selfish after Freedom of Expression was implemented. Many people think that they are completely right while others are wrong. If there is a problem, they just like to speak not to listen to others. They won’t appreciate others’ argument unless others’ argument has same way with their opinion and support each other. Their stubborn attitude makes every single problem that occurs in our country become difficult to get an agreement and solution. Every problem can only be solved by voting. Solution just appears from the power of majority while the right of minority is not concerned and participated. Because all of that , democration in this country could not be implemented anymore.
Second, most of people always make Freedom of expression as an excuse to do whatever they want. Many irresponsible people justify their action. They even use violence to make sure to others that their opinion is right while others’ is wrong. They make anarchism as a form of expression. They make graffiti everywhere, break public tools and burn anything else to show their expression and opinion. Because of their action, society becomes chaos.
Third, the implementation of Freedom of expression brings more bad impacts. There are demonstration, separatism, pornography and violence. Many people think that demonstration as the only way to give their opinion so that there is no day without demonstration. Pornography as an expression of ‘art’ occurs everywhere and becomes an epidemic to the society. Now, most of society’s way of life could not be separated from this stuff. Not only that, many people use this freedom moment to separate from our country like GAM, OPM, RMS and so on. A lot of kind of separatism occur in every region because they say that they have a right to do this action which is freedom of expression. They even use violence to force Indonesian government to legalize their action.
Some people say that freedom of expression must not be limited. They argue that according to the meaning of freedom itself, freedom is not appropriate with limitation. Furthermore, they say that we have ever felt how our freedom of expression was limited in Orde Baru. I agree that freedom is not appropriate with limitation but is it worth if we are free to do whatever we want even break the law and our democration way of life in the name of freedom of expression?. I don’t think so. We know that how horrible the limitation in Orde Baru was. This regime usually used military power to punish every person that gave his/her opinion about especially the weakness of this regime. But, that was not a form of limitation on freedom of expression. That was a form of dictator which there is no freedom at all. Of course we all don’t want that happens again. The limitation in here is not as strict as Orde Baru regime did. This limitation is just to control our freedom of expression so that its implementation will still in the way of democration way of life.
There is some solutions to solve this problem. First, government must give some understanding about how freedom of expression should be. Government and NGO should be active to this action so that people will not misunderstand about freedom of expression again. Second, Government must limit freedom of expression in order to make a better way for implementation of freedom of expression so that our democratic way of life is still exist in this country.
After short discussion, we can conclude that freedom of expression in
Any comments will be fully appreciated. Thanks
Original article click here
Sabtu, 08 September 2007
Coruption Watch
Kalla Pasang Badan, Kali Ini Bela Syaukani
(sumber: Harian Surya)
UPDATE
(Baru diposting sudah ada yang nanya, "memangnya Syaukani tuh korupsi apa sih??" ck ck ck kemana ajaa)
Saukani diduga korupsi dalam penggelembungan ongkos studi kelayakan Bandara Loa Kulu yang merugikan negara Rp 3 miliar dan pembebasan tanah bandara Rp 15 miliar. Ia juga diduga menyalahgunakan dana bantuan sosial sebagai dana taktis Rp 7,75 miliar serta upah pungutan dana perimbangan negara dari sektor minyak dan gas Rp 15 miliar. Lengkapnya baca di sini.
Korupsi lainnya: ini baru sedikit loh
Laporan Dugaan Korupsi Pengadaan Pesawat GA-8 Airvan
di Pemerintah Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim)
Perkembangan Penanganan Kasus-Kasus Korupsi di Kalimantan Timur
WA. Wibowo
Anak Balikpapan yang sudah pindah ke DIY
Manajemen Informatika Akakom Yogyakarta
Kamis, 06 September 2007
Siaga Bencana Longsor
Just spreading the news...
Ada angin ada hujan, maka terjadilah bencana tanah longsor di Balikpapan. Seperti yang sudah diberitakan media massa, longsor terjadi Sabtu (1/9) pukul 06.00 WIB. Selain menelan korban jiwa (5 orang tewas), dan merobohkan rumah-rumah penduduk, bencana ini juga menyebabkan ruas Jalan RE Martadinata putus dan membentuk jurang selebar 60 meter. Tidak kurang (bisa lebih) dari 118 kepala keluarga terpaksa pindah dari wilayah tersebut.
Menurut media lokal Balikpapan (apalagi kalo bukan tribun ma the post), Pemkot Balikpapan bertindak cepat dengan segera mengevakuasi warga korban bencana ke tempat penampungan di Kantor Arsip dan Perpustakaan Balikpapan (tapi katanya temanku banyak juga yang ngungsi di mushola-mushola). Nah, tapi seorang bapak yang berbicara pada wartawan (ku dengar namanya Mukmin Faisal) mengeluhkan distribusi bantuan yang tidak merata. Banyak pengungsi di langgar-langgar yang belum dapat makanan dan pakaian. Sepertinya karena jarang terkena bencana (alhamdulillah sih) koordinasi di Balikpapan jadi payah.
Selain itu, dampak dari bencana ini otomatis lalu lintas jadi tidak lancar. Sejak hari Senin (3/9) sudah ada traktor di TKB (tempat kejadian bencana) yang katanya akan digunakan untuk membangun jembatan sementara. Tapi karena hujan turun terus (dan mengakibatkan longsor-longsor kecil), si supir traktor hanya duduk-duduk minum kopi.
Untuk pembangunan setelah longsor, Pemkot Balikpapan akan mengucurkan dana bantuan. Walikota Balikpapan, Imdaad Hamid memperkirakan besar dana penanganan infrastruktur akibat longsong Rp 59,2 miliar. "Dana cadangan bencana hanya Rp 3,6 miliar. Sisanya meminta bantuan Kalimantan Timur dan pemerintah pusat," katanya di Tempo Interaktif.
Pemprov Kaltim juga memanggil tim ahli dari ITS untuk meneliti penyebab terjadinya tanah longsor tersebut. Tim yang beranggotakan empat orang ini terdiri dari ahli-ahli yang kompeten di bidangnya. Yaitu ahli konstruksi beton Udman Hanifa, ahli Drainase Umboro Lasminto, ahli konstruksi tanah Suwarno, ahli Kondisi Lingkungan Ari Dipareza.
Menurut Mudji Irmawan, selaku pembentuk tim, bencana itu terjadi akibat curah hujan deras di wilayah Kalimatan Timur. Meningkatnya curah hujan berimbas pada pertambahan volume sungai sehingga aliran arus sungai membesar. Selain itu, longsor merenggut korban jiwa akibat kurang fahamnya masyarakat terhadap tanda-tanda teknis sebelum bencana.
Sekalinya Balikpapan masuk tv, pasti karena bencana, atau di buser, sergap, patroli dan sejenisnya...
PA. Ningtyas
Anak Balikpapan
SMAN 5 Balikpapan
Rabu, 05 September 2007
Stop Complaining People!
Percaya ga sih keadaan yang tidak stabil adalah gimana dunia bekerja, unstable lah yang memberi loe-loe pada makan, unstable lah yang buat Indonesia merdeka juga, unstable lah yang buat pejabat-pejabat makin gendut dan banyak dosa. Ngarapin sesuatu yang stabil sama aja juga ngarapin ga ada kehidupan. Wartawan hidup dari ketidakstabilan, begitu juga bokap-bokap loe pada, dan dalam suatu kondisi unstable ada orang yang harus dan pasti dan mesti dirugikan, ini pasti, loe ga bisa bawa semua menjadi bener dan stabil, apalagi di Indonesia yang punya tingkat variansi yang tinggi.
Variansi yang ada di negara kita terlalu tinggi, sebenarnya tingginya variansi tersebut sangat bagus jika didukung oleh tingkat pengertian dan pendidikan yang tinggi, tapi ini ga! Indonesia punya variansi yang tinggi dengan tingkat ketololan dan kebodohan yang sangat tinggi. Variansi yang di maksud bukan beragam suku jenis lho ya, tetapi beragam tujuan, maksud, dan keinginan. Variansi yang ada harus di tekan dan diturunkan, bagaimana caranya? seriously gw ga tau.
Berbicara ttg Indonesia sama aja bicarain sesuatu yang busuk dan hancur, sekuat apapun tenaga hanya akan ikut hancur juga, trus apa dunk yang bisa kita lakuin secara tahap kita cuma bisa ngemeng doank tapi kita juga pengan melakukan perubahan dan ga ikut arus banget lah? ada sih nurut aku beberapa yang bisa kita lakukan, Loh koq malah ngasi gini bex, bukannya cerita2 ekonomi kaltim, LPG, atau apalah, soalnya nurut gue, yang kita lakukan dengan berpendapat ini percuma dan buang-buang tenaga, apalagi berpendapat tentang daerah, kaltim misalnya. Bayangin ya, suatu masalah yang terjadi di Ibukota aja, pemerintah dengan tega menyuekin apalagi di daerah yang cuma demo-demo doank, tinggal dilempari uang 50.000 trus di suruh beli cendol dah pada diem. Ga usah jauh-jauh, Lavindo, gimana tuh penyelesaian? beres ga? bayangain orang-orang yang kena korban udah nuntut ampe datang kesana, ada yang ampe nangis-nangis bilang ini lah bilang itu lah, tapi apa? emang ada tanggapan yang cukup berarti dari pemerintah? GA!!!, lahhh kita? mau nuntut apa? Kaltim di perhatiin? Bencana kek gitu aja pemerintah cuek apalagi masalah kita, terkadang gw mikir orang tolol yang ngomong "ahh dah bisa makan aja sukur ga usah ribut deh" bener juga klo diliat dari sisi ini. Sapa yang di untungkan dengan terjadi hal2 kek gitu, media massa, yang ujung2nya punya orang2 gedean di pemerintahan juga.
Menanggapi pernyataan “kenapa ga ada orang2 baik dan berpikiran bener kek kita2 yang masuk ke dunia pemerintahan?”. Oke, gini, ketika orang belum nikah terutama cowok ngeliat pasangan yang udah nikah dia pasti bilang, duh enaknya ya udah nikah, tukang becak bilang duh enak ya tukang ojek ga perlu ngayuh-ngayuh kek gw, dst dst. Intinya kita bisa ngomong kek gitu karena kita blum dapatkan itu, kita pikir orang-orang di pemerintahan itu tolol-tolol dan tidak bisa berpikiran kek kita gitu? padahal dulu mereka juga gw yakin orang-orang kek kita, yang ketika masuk ke dalam situ tidak bisa berbuat apa-apa juga, melawan hancur, tereak-tereak juga ga terlalu di gubris, banyak omong cepet mokat [menurut penelitian kompas hehehe]. Jadi jangan pikir dengan kita nantinya yang berpikiran sekarang seandainya ntar masuk pemerintahan bisa melakukan something, GA!!!! lo mikir gitu sekarang karena blum jadi itu. Coba tanya suami-suami, enak ga udah nikah? jawabannya GA!! Rata-rata sih.
Okeh ini pendapat kasar, katakanlah tereak-tereak kita dan blog kita di dengarkan oleh pemerintah, trus daerah laen juga ntar bakal kek kita tereak-tereak dan ga didengar dan di cuekin, trus apa kita peduli ama mereka? pastinya ga donk, klo kaltim udah maju ya udah persetan dengan yang laen, urus aja kek kita dulu tereak ampe di denger.
Oke oke ini ada beberapa yang nurut pikiran tolol gw yang masih bisa kita lakukan secara kita masih tahap ngemeng dan ngemeng dan terkadang bisa lah lempar-lempar batu kecil dikit ke pemerintah. Intinya jgn terlalu terpikirkan pemerintah yang sekarang, klo kita udah ngerasa kita bener dan bisa berpikir bener, sekarang yang penting ajak orang-orang yang di bawah dan yang bakal menjadi pemimpin indonesia untuk berpikir bener, contoh : anak-anak kita dan orang-orang yang tidak tau, trus apa yang perlu diajarkan ke mereka :
HAM harus di ganti dengan KAM
ntah kenapa HAM terkadang selalu menjadi senjata untuk orang-orang indonesia. Orang-orang indonesia yang udah pada dasarnya malas dan cuma bisa ngomong malah disuruh dan dikasi untuk menuntut HAK. Kalo dulu itu Soekarno dan Hatta menuntut hak-haknya dulu, maka Indonesia ga akan merdeka, mereka adalah orang-orang yang masuk ke jenis melawan arus, yang akan di cap pahlawan klo berhasil, dan di cap orang aneh kalau gagal. Setuju sama Fery, udah ga ada yang mendahulukan kepentingan umum atau bersama, yang ada sekarang hanya kepentingan individu atau golongannya. Bukan berarti nyruh jadi kek sukarno, dan juga bukan berarti kek JF.kennedy bilang "jgn tanya apa yang bisa negara berikan ke kamu blablabla anjing", BUKAN!!!. Intinya tunaikan lah dulu kewajiban mu dan dapatkan hakmu, banyak sih yang udah bilang kek gini, tapi luar biasa sulit realisasinya.
BUDAYA
Didik anak2mu supaya tidak menjadi seperti mereka2 yang sekarang di pemerintahan, merekalah nanti yang bakal menjadi penerus. Budaya disini sangat luas, masalah ga korupsi, agama, tatakrama, dan pendidikan juga termasuk kedalam budaya.
HATI NURANI
Banyaklah melatih hati nuranimu, karena semua masalh yang timbul di dunia ini pasti karena maslah hati, sekolahkan hatimu yang sekarang mungkin masih SD sampe menjadi S3 atau profesor, kemudian ajarkan kepada generasi berikutnya.
isi di atas tidak bermaksud menggurui atau sotoi, cuma pikiran tolol yang ada di gw, silahkan post2 trus masalah kek gini, dan omongkan trus, mudah2an ada hasilnya dan berguna. Jaya Indonesia, yeahhhhhhh.
A. Subrata aka Bobex
Anak Balikpapan yang sudah pindah ke Bandung
Teknik Informatika STT Telkom
Selasa, 04 September 2007
Merubah Bangsa?

Siapa yang bersedia mampus di tangan bangsanya sendiri? Mau jadi pemimpin habis mata sembab, dihina2, mana ada yang mau.. Lha wong pendaftaran jadi Gubernur DKI sampe mepeeeet waktunya ngga ada yang nongol2 buat nyalonin diri.
Lagian kalo mau jadi pemimpin bangsa itu kita musti utang budi, utang, duit dimana2! Meskipun utang duit itu ngga riil. Misalnya nih, kalo mau jadi presiden eh salah mau jadi gubernur aja deh ngga usah jauh-jauh.. Banyak banget biaya yang kita perluin! So, pasti kita cari promotor2. Orang2 yang banyak kepentingan dengan aset bangsa ini mulai deh dengan senang hati menjadi promotor salah satu calon pemimpin. Mendukung dengan segudang kocek yang dia punya. Kalo si pemimpin udah berhasil mencapai cita2nya, tinggal dia nagih utang budi. Itulah yang bikin banyak pejabat mendahulukan kepentingan bersama bahkan perseorangan daripada kepentingan publik. Ya karena utang budi itu tadi!
Akhirnya si pemimpin sibuk mengamati aset mana aja yang bisa dijadikan penutup modal kampanye dia.
Tapi merubah bangsa itu ngga hanya dengan menjadi pejabat.
Nah dulu Bangladeh ini adalah salah satu negeri yang termiskin! Disana kebanyakan penduduk berpenghasilan rendah. Akhirnya beliau menciptakan sistem, gw lupa istilahnya kira2, lend your 10 dolar. (jumlah pastinya gw lupa, hanya beliau menghitung2 jumlah tersebut kira-kira seperti kebutuhan 1 hari yang kita perlukan).
Nah dia uji coba melalui mahasiswanya. 10 dolar dari uang saku mereka digunakan sebagai modal. mereka datang ke desa2. setiap satu orang meminjamkan 10 dolar yang mereka miliki kepada orang lain. Nanti setelah beberapa waktu orang tersebut mengembalikan 10 dolar, tapi dengan catatan si peminjam telah memiliki uang lebih dari 10 dolar.
Jadi intinya si Muhammad ini mengembangkan KUK ala syariah. Ngga banyak
Dalam beberapa tahun KUK syariah si dosen itu, membesar! Banyak keluarga yang tertolong dari program tersebut. Nah, merubah bangsa ga harus butuh modal segede buat iklan di tipi
Kita bisa mulai dengan membuka lapangan kerja kecil-kecilan. Tanamkan kepada karyawan yang bekerja pada kalian untuk tidak selamanya menjadi karyawan kalian. Mereka harus bisa membuka usaha sendiri. Bantu, baik dengan teori maupun dengan modal. Kembangkan mereka. Meskipun kita malah menjadi banyak pesaing, pastilah rejeki itu ngga pernah sejalan sama teori matematika! Rejeki akan semakin banyak kalo kita bagi ya
Emang sih sekarang kita masih pada tahap ngomong doang, tapi kalo ngga diomongin kayak gini, mana bisa kita tau bahwa di kepala teman-teman kita yang urakan ini terdapat ide-ide yang kayak berlian?!
Buat yang gak suka, yah di semangat positif itu pasti ada aura negatif yang nongol, biar satu...
Anak Samarinda
Teknik Industri STT Telkom
Solusi Banjir?
Banjir di Balikpapan
As we know.... beberapa hari kemaren balikpapan kebanjiran seperti yang diberitakan oleh media massa begitu pula tenggarong (bulan lalu) dan sekitarnya. Yah mungkin secara tidak langsung udah merusak biosfer wilayah tersebut.
Coba Kita renungkan dulu..........
Menurut gw yang terjadi adalah:
1. Ilegal loging (klasik)
2. TAmbang batu bara tanpa reklamasi ( klasik )
Kalu berikut ini menurut kalian gmn :
Pemda belum memiliki data spasial yang mampu menunjang inventarisasi kekayaan SDA yang udah dikeruk sana-sini, (emang mereka udah kepikiran apa) gw pernah nanya di tempat gw KP "kebanyakan birokrasi memandang sebelah mata mengenai hal ini mereka itu orang bodoh yang sok tau". Padahal teknologi geospasial tuh dah berkembang pesat yang mampu memberikan evaluasi dan analisis terhadap segala sesuatu yang sifatnya keruangan (spasial). Kalu udah ada yang beginian menurut gw "halah masalah banjir doang ", artinya apa hal-hal tersebut bisa dicegah?
Tinggal kita aja mau gak memperhatikan masalah ini (terutama Bapeda dan segala macem nya lah). Ntar dah kalu gw lulus... tau dah ni kapan...
J. Santoso
Anak Samarinda
Teknik Geodesi ITS
Senin, 03 September 2007
Konversi Minyak Tanah - LPG

Kenapa sih pemerintah pake ngeganti minyak tanah sama LPG??? Aku nanya begini bukan gara2 banyaknya ibu-ibu demo ngantri minyak tanah. Tapi karena.... LPG itu kan SETAUKU bahan bakar yang paling susah didapet. LPG itu-bahannya butan dan sedikit propan (C3-C4)-produk samping pengeboran minyak yang jumlahnya sedikiiiiiit banget (ga bakal nyampe 5% KALO GA SALAH). Bahkan di pengeboran gas alam (dominan C1-C2) juga sama aja. Terus kenapa jadi diganti sama bahan bakar yang paling susah didapet??? Ditambah lagi, gas-gas beginian bersaing sama industri2 petrokimia yang bahannya emang dari gas, macam PKT gitulah. Belom lagi LPG kan ga bisa dibeli eceran kaya minyak tanah satu liter doang gitu. dan yang ga kalah penting,,,,,,kemana pulang unda handak main laduman??? HAW!!!!!
Ini pemerintah yang sok modern apa gimana sih????? Tolong anak2 FIKTM confirm. Aku lagi males buka2 forum anj*ng yang ngemeng-ngemeng doang.
Oia, satu lagi alternatif bahan bakar. Dulu ITB pernah memanfaatkan yang namanya gas kota. Tapi ga tau kenapa berenti. Padahal lingkup pemanfaatannya meliputi sumur Bandung sampe dago atas. Dulu lab-lab fisika dan kimia dasar TPB ITB pake bahan bakar ini. Detailnya sih aku belom tau. Tapi bisa dicari. Gimana??
A. Nova
Anak Samarinda yang sudah pindah ke Serang
Teknik Kimia ITB
Mahasiswa Kaltim
Setauku ada beberapa demo ttg listrik yang dimobilisasi oleh mahasiswa Unmul kalo ga salah, cuman ya itu tadi, tampaknya hanya sekedar berjemur, berteriak, trus pulang. Sekedar ngomong doang, padahal, meminjam kata iwan, 'kamu taw apa?!'. Yap, mereka tau apa? Sekedar menjalankan salah satu tugas mahasiswa yang katanya sebagai agent of change? Agar tampak di mata masyarakat idealismenya?
Tapi tetap ga ada perubahan.. Gimana mau ada perubahan, kelanjutannya aja ga jelas -kalo ga mau dibilang ga ada-. Habis teriak2 penuh emosi, istirahat, trus bubar, pulang sendiri2..
Saat ini taraf kita hanyalah sekedar ngomong, memunculkan ide2 baru, menganalisis, dan mencoba mencari solusi. Udah, cukup sampe situ dulu.. Kita masih belum berkompetensi untuk melakukan langkah2 kongkrit dengan hasil yang nyata. 'Belum', bukan 'tidak'.
Hal ini bener2 kurasain waktu kkn kemaren. -He, ada gunanya juga kkn-
Mahasiswa, bahkan s1 sekalipun keahliannya memang di teori, sekedar tahu doang.
Ok, ada yang namanya praktikum, tapi cuman untuk sekedar mencoba biar tahu kan. Belum sampe pada kemampuan produksi. Contoh gampangnya aja, yang kuliah peternakan jurusan produksi ternak mungkin masih kagok waktu diminta untuk memerah sapi. Tapi para peternak yang bahkan SD pun ga, apalagi mengenyam teori2 ternak sapi, buta aksara pula, malah lebih lihai memerah sapi.
Anak-anak teknologi pertanian, jurusan pengolahan pangan pun bakal malu untuk presentasi cara masak yang baik di depan ibu-ibu PKK. Yah.. smua sudah ada keahlian masing2... Kalau memang taraf kita masih pada bicara, knapa itu jadi masalah? Sungguh itu merupakan suatu proses pembelajaran yang sangat berarti. Masih ingat proses kan? Buanglah jauh-jauh budaya instan yang terus menggerogoti bangsa ini.
Samarinda dan Kukar berebut mau bikin bandara. Samarinda bikin IC ga selesai-selesei, eh Balikpapan juga mau bikin. Kalo semuanya jadi pusat, gimana bisa? Semua daerah bikin pusat olahraga gede2an, taraf internasional. Tapi siapa yang mau pake tu fasilitas kalo orangnya cuman dikit? Hasilnya ya pembangunan yang ga tepat sasaran, apalagi tepat guna. Karena ya itu tadi, cuman sekedar gengsi..
Aku sih tetep sibuk nunggu taksi aja, hehe...
Siapa yang berwewenang untuk mengubah keadaan ini?
Haruskah punya jabatan? Gubernur, bupati, walikota?
Itu semua berbau politik..
Suatu pertanyaan yang aku sendiri ga berani menjawabnya.
Ataukah kita kembali ke sikap, ah ngapain ngurus gituan, yang penting gw bisa makan kenyang?
Aku pengen bikin tempat nongkrong yang representatif. Muter lagu-lagu slow, jazzy tunes, ato lounge-lounge gitu. Bukan lagu-lagunya ungu, kangen, ato apalah band-band yang disukain di sana.
Trus yang utama sebagai tempat untuk diskusi non formal juga. Nah budaya diskusi ini yang jarang banget ada di sana. Paling kita-kita aja lewat milis gini. Mungkin ini salah satu cara untuk berbagi pengalaman ke mereka tentang kehidupan di luar sana, di jawa, di sulawesi, yang katanya lebih maju. Syukur-syukur kalo ada banyak komunitas yang bisa masuk. Daripada ngumpul di tempat dugem, ga bisa ngobrol.. Lagunya paling2 kucing garong..
Hehe...
Dari awal indonesia ini emang sudah salah kok..
Individualis smua! Boong bgt kalo ada yang mementingkan kelompok.
Bahkan bila mementingkan kelompok pun, pada dasarnya untuk kepentingan pribadi. Tul ga?
Dengerin aja tu lagu kebangsaan, Indonesia Raya -ato endonesia raya?-
Ga ada sama skali kata 'KITA', smua pake 'AKU, KU'
F. Aldino
Anak Samarinda
Psikologi UGM
Energi Alternatif
Kalo mau tu, tanya ke perusahaan pembangkit listriknya. ada masalah apa? Masalah di listrik bukan cuma gara2 dieselnya. Bisa juga sistemnya ga efektif.
Ada banyak cara biar lebih efektif,
1. melebarkan rentang ekspansi-kompresi steam
2. gabungan turbin gas dan uap
3. minimalisasi kebocoran heat
4. recycle, reuse
5. ganti bahan bakar alternatif
Yang bisa dibakar itu kan bukan cuma BBM atau batubara. Kaltim kan hutannya luas. Emang, kalo kita minta lahan 5 hektar ga bakal dikasih. Tapi kan ada yang laen. LIMBAH GERGAJI!!! berapa banyak sawmill yang ada di kaltim??? Pake aja tuh limbah buat jadi energi. Ga bakal ada yang protes kalo kita cuma minta SAMPAH!!! Ditambah lagi garis pantai kaltim kan lumayan juga. Ada banyak pohon kelapa. Nah batok kelapa itu juga bisa dibakar. limbah gergaji sama batok itu bisa digasifikasi jadi gas produser dan volatile matter. Ntar masuk turbin trus dibakar.
Yang kedua ya...
Biogas... tau ga kalo 1 kg tai bisa ngidupin lampu 5 watt selama satu malem??? Nah ntar buka aja warung "DIBELI KOTORAN MANUSIA". Emang sih tergantung viskositasnya juga. jadi ntar kalo mencret harganya lebih murah. Nah lagi2 sampah. Jadi dobel, ngurangin sampah sama nambahin listrik.
Nah, kalo dana... no comment. Secara gw kan bisnismen gagal yang di DO gitu yeeee...........
walopun negara kita semakin melemah,,,tetep...hidup persib!!!!!
A. Nova
Anak Samarinda yang sudah pindah ke Serang, Banten
Teknik Kimia ITB
Kaltim Kaya??
Jembatan Tenggarong
Soal KalTim ya? (padahal kemaren aku dah buat resume yang ku ambil dari skripku, tapi sekarang ga kebawa). Talking 'bout wealthy, PDRB or PDB cuma masalah sebutan aja. Kalo ngomong wilayah kota/kab or propin, kita pake PDRB, kalo negara pake PDB or GNP. Toh PDB akumulasi dari PDRB nantinya. PDRB KalTim tahun 2005 menduduki peringkat ke-5 setelah DKI, JATIM, JABAR n JATENG (Profil Kaltim, 2006). Kalo sekarang mah ga tau tepatnya urutan ke berapa, setelah JATIM dengan Lapindo, DKI dengan Banjir, dll. Tapi prestasi yg cukup ngebanggain tentunya, dibanding daerah or propin lain di indonesia. Tapi jangan salah, PDRB tinggi ga slalu mencerminkan majunya suatu daerah. Pertumbuhan vs distribusi pendapatan, juga menjadi pemicu kemajuan daerah. Well, pertumbuhan KalTim yg meski kenaikkannya fluktuatif, tapi cenderung stabil dibanding daerah lainnya, yang jelas ga ngalamin penurunan slama 5 thn terakhir. Tapi masalah distribusi pendapatan, error banget hasilnya. OverLoad. Banget.... banget.
Secara Tipologi daerah (cross antara pertumbuhan dan PDRB per kapita), KalTim termasuk dalam kategori daerah cepat maju cepat tumbuh. Tapi semua balik ke pemprop lagi khan gimana realisasinya. Bukannya Pemerintah Pusat ga ada perhatian lho dengan daerah-daerah KTI macam KalTim ini. Emank sih pas awal pembangunan (orde baru) dulu, pelaksanaan pembangunan diskenariokan tidak seimbang, yaitu terpusat dipulau jawa, dengan alasan ketersediaan sarana dan infrastruktur, juga SDM yang jauh lebih dibanding daerah lain, padahal belum tau aja ya mereka, kita punya orang-orang handal macam kita (serius!!!).
Sejalan waktu, KalTim mampu menunjukkan potensinya, ya dari PDRB itu. Upaya pemerintah untuk memajukan daerah-daerah KTI udah ada lho, antara lain dengan pembentukan daerah-daerah KAPET, pemberian insentif bagi investor swasta (keringanan pajak, penyediaan infras, dll)... Tapi lagi-lagi balik ke orang KalTim sendiri khan? Ternyata dan ternyata, dananya banyak dikorup sendiri sama pejabat-pejabatnya.
Satu lagi, hal paling susah yaitu, orang KalTim sudah beranggapan dirinya kaya... dan bakal stagnan disitu aja, tanpa mau berubah.
Dan aku juga baru tau kalo kekayaan suatu daerah, dilihat dr APBDnya... bukan dr PDRBnya. Makanya aku bingung, KUKAR koq sering disebut2 daerah paling kaya se Indo. Pdhl PDRBnya aja no.2 setelah BTG alias Bontang (untuk di KalTim). Lucu ya, ngukur kekayaan koq dari besar belanjanya, bukan dari penghasilannya. Pas pulang akhir Juli kemaren, aku selintas baca Tribun KalTim, Pemerintah Pusat mencabut subsidi pendidikan untuk 2 propin yaitu DKI n KalTim...
A. Nugraheni
Anak Tenggarong
Teknik Industri ITN & Studi Pembangunan Univ. Brawijaya
Listrik: Benua Etam
Terang saja pemda dan DPRD kaltim pada protes ga setuju dengan alasan bagaimana dengan pembangunan kaltim? tapi coba kita liat dalam perencanaan mereka mengatur dana APBD. dengan dana yg jumlahnya triliunan hanya untuk kaltim, gada terasa manfaatnya bagi masyarakat. contohnya saja listrik yg sering mati. bayangin aja di tempatku ini jadwal mati lampunya bikin dongkol, klo hari ini mati lampu siang ( jam 07.00 - 17.00) maka besok jadwalnya mati malam (jam 18.00- 22.00) dan lusa baru gak mati seharian, dan begitu seterusnya, aneh kan?padahal dana perawatan PLN tuh ada sampe ratusan juta tapi kemaren padam total bpp. smd, tgr, karena trafonya meledak. Lalu bagaimana pemerintah pusat gak
menganggap kita kaya, baru2 ini aja DPRD mencanangkan pembangunan Sport center di kantor DPRD, dengan alasan anggota DPRD juga butuh olahraga, dgn dana yg mencapai miliaran. terang aja warga protes, buat apa sih mereka buat sport center? mending GOR aja yg dibaikin.
Lalu tentang dana Bansos yg setelah rapat2 yg ga jelas kemudian malah dibagi2 kan pada setiap anggota DPRD sebesar 400 juta, ketika ditanya kenapa,mereka berdalih agar memudahkan pembagian dana ke daerah2, jadi tinggal ajukan aja ke anggota DPRD, cara yg anehkan? lalu untuk apa ada panggar? blum lagi tunjangan2 untuk anggota DPRD yg aje gile, bayangin aja tunjangan rumah mereka sebulan 15 juta bo!!klo misalnya uang2 ntu benar2 dipergunakan untuk pembangunan kaltim tentunya dalam 5 tahun aja kita bisa sepesat Jakarta. belum lagi penerimaan2 di beberapa tempat yg masih mengandalkan KKN. jadi jgn heran bila anggota DPRD kita atw pemda banyak yg korupsi, soalnya mereka kerja berfikir bagaimana supaya mengembalikan uang yg dipake mereka buat nyogok.
so buat org2 yg berkompeten tapi kere.....minggir dulu deh sampe org2 yg beduit udah kerja semua. miris emang tapi begitulah kehidupan disini, semua ditentukan oleh dua hal UANG dan BUBUHAN. pernah ada satu ide gila yg tercetus di otakku, pangkas generasi!!hehheeh tapi kayaknya ga mungkin banget yah, bisa masuk penjara deh, atuuttt......
Memang di bebrapa kota da pembangunan yg lumayan gila2an, misalnya di BPP atw SMD, tapi kebanyakan yg dibangun juga hal2 yg menguntungkan, seperti Mal, sedangkan untuk hal2 yg berguna sprti sekolahan atw fasilitas2 pendidikan, huh! non sense. liat aja nasib PERPUSDA kita, sedih dyeh.....atw perkembangan teknologi kita (misalnya: layanan internet dan hot spot) hik..hik..patheatic.
ohya ada sih yg dikembangkan, kebutuhan internet, tapi untuk kantor2 Pemda, dan sejak ada internet para pegawainya rajin online tiap hari, buka situs porno!!hahahahah dan akhrinya tuh komputer pada lemot semua so begitulah wajah benua etam saat ini, tampak tenang2 aja diluarnya tapi saling menggerogoti didalamnya, sedangkan mahasiswanya? mungkin sudah cari ciri khas org Kaltim yg nota bene org mampu dan cuek, sehingga mereka ga pernah protes soal2 gitu, selama itu tidak mengganggu mereka
pikirkankah....
so teman2ku tercinta,
yg punya solusi yg konkrit dan jitu,
cepatlah pulang............
key!!!
(SUMBER: tribun kaltim, kaltim post, dan obrolan sekitar)
W. Maylinda
Anak Anggana
Kimia Univ. Mulawarman
Kaltim Pusat Perekonomian?
Kenapa pemerintah pusat cenderung diam saja? Itu balik lagi ke masyarakatnya. Apa ada sekarang yg ngangkat kasus kaya gini sampe heboh? Media2 tentu lebih heboh untuk masalah jawa-bali (kaya puput bilang), karena di lingkungan itulah wartawan2nya terlibat dan menggantungkan hidup. Wajar mereka ikut2an teriak2 dengan memanfaatkan power mereka sebagai jurnalis.
Sekarang apa ada media daerah yg dgn gigih dan lantang ikut teriak2 masalah listrik ini di Kaltim? Apa ada mahasiswa yg demo abis2an di kantor pemda buat nuntut masalah ini? NOL! Kita (ya kita, masayarakat Kaltim) udah terbiasa hidup nyaman (betul kata ega). Saat orang di jawa tercekik krisis moneter (istilah jadul nih) tahun 90 akhir, kita mah santai2 aja. Karena memang pendapatan rata2 penduduk kita jauh diatas orang2 jawa (apalagi di kota2 kaya SMD,BPP,TGR). Bandingkan dengan orang2 jawa yg udah susah nyari makan, terus diusik dengan masalah mati listrik misal, wajar mereka teriak2.
Hm... mengenai minyak2 Kaltim yg dikuras ama perusahaan asing, well sedih memang. Tapi yah begitulah. Jargon Indonesia kaya raya berbagai kekayaan alam itu memang benar, tapi kalo jargon itu diselaraskan dengan kemakmuran bangsa yg tinggi akibat kekayaan tadi, OMONG KOSONG! Lihat saja, ga cuman perusahaan minyak (kaya kata Alan) yg dikuasai asing, bahkan sampe perusahaan2 agrobisnis, dan perhutanan dikuasai orang asing (bukan bule sih, tapi jepang dan korea, kalo ga salah).
Untuk saat ini kita memang masih ga bisa berbuat banyak. Utk langsung mengambil alih semua aset kekayaan tadi dan diurus sendiri tentu bukan hal mudah (semudah Hugo Chavez menasionalisasi aset2 negaranya Bolivia). Masalah terbesar menurut gw mentok di masalah duit. Butuh modal besar utk mengorganisir bisnis seperti itu. Taukah kalian bahwa utk melakukan pengeboran, eksplorasi bahkan sampai ke produksi minyak itu butuh dana ratusan juta dollar? Itu baru satu sumur. Bayangkan dana seperti itu mengalir keluar utk ribuan sumur2 lain (yg bahkan belum tentu ada isinya). Well, buat bayar utang negara aja belum mampu apa lagi ngurusin hal kaya gini. Jadi wajar pemerintah lari ke perusahaan asing, karena pada akhirnya kekayaan alam itu bisa diberdayakan, tidak sia2 teronggok begitu saja, meskipun dengan pembagian hasil yg sedikit kurang menguntungkan bagi kita sebagai "pemilik lahan".
Kualitas masyarakat? Hm... isu ini sering diangkat. Tapi menurut gw kualitas kita sangat2 mantap. Kalo gw liat di milis2 beasiswa, hampir setiap tahun ada puluhan (bahkan mungkin ratusan) mahasiswa yg pergi keluar negeri utk kuliah lanjut. Dan kata temen2 gw diluar sono, mahasiswa Indonesia rata2 termasuk golongan yg "cerdas", meskipun dulunya ble'e di Indo. Entah kenapa bisa begitu. Intinya, kaum terpelajar Indonesia (kaltim juga) kalo kita kumpulkan dari, anggaplah sepuluh tahun lalu (sekarang udha usia produktif), ada banyak kan. Tapi coba, pada kemana mereka? Lari ke perusahaan asing! Karena ga ada jaminan menarik dari pemerintah bagi ilmu yg mereka punya. Gaji, ya..GAJI, dari pemerintah utk orang2 pintar itu, sangat jauh di bwh standar bila dibandingkan bahkan dengan honor mereka saat menjadi asisten dosen di luar negeri. Sangat manusiawi menurut gw, saat mereka dihadapkan pada kondisi keuangan seperti itu, mereka akhirnya memutuskan pindah ke perusahaan asing yg lebih menghargai kemampuan yg mereka punya.
SO in the end, its all about GOD DAMN MONEY!
- la la la... kabur ah -
GG. Wihardi
Anak Samarinda
Geofisika ITB
Question
F. Aldino
Anak Samarinda
Psikologi UGM
Krisis Listrik
Tadi malam adekku nelpon, bete dia, katanya kompienya jadi habuk karena listrik mati-nyala mulu. Papaku juga sewot, percuma bayar tagihan tv kabel kalo tv-nya aja gak bisa dinyalain karena gak ada energi. Masalah listrik-air udah parah banget di Kaltim bokk. Ya gak bubuhan yg ada di “rumah”?
Well, sebelum aku ke Bandung, aku juga udah ngerasain sendiri. Mati lampu bisa dari jam 9 pagi – 6 sore. Trus besoknya giliran malam dari jam 6 – 10. Dan itu terjadi almost everyday. Akhirnya, gak di samarinda, gak di balikpapan, kalo malam gak ada lampu jalanan yang nyala dengan alasan penghematan (trus alasan keamanannya mana??), trus jangan heran kalo sepanjang hari terdengar suara deru mesin jenset yang bikin budek.
Giliran aku dah di Bandung, sudah hampir empat bulan ini, mati lampu di rumah cuma sekali. Itu juga gak nyampe 5 menit. Penyebabnya juga kayaknya cuman njeglek. Kenapa beda sih?
Aku pernah lihat, pembangkit tenaga listrik untuk kebanyakan kota di Kalimantan pake tenaga diesel. Trus ada apa dengan diesel kita?? Bukannya Kutai ladang minyak, bukannya tempat masak diesel ada di Balikpapan. Terus kita kekurangan apa? Kenapa cuma kita yang disuruh hemat? Kenapa Pulau Jawa boleh membuang-buang listrik?? Emang Jawa pake pembangkit
tenaga upil jd gak perlu dihemat sumber energinya karena persediaan melimpah?
Ada yang bisa ngasih jawaban gak?
NB: Aku lihat di metro realitas, industri perikanan di Kaltim lesu karena nelayan harus keluar banyak duit buat beli es batu ke Malaysia (ya gimana mo bikin sendiri org kulkasnya aja mati).
Rugi bandar, persediaan diesel dibagi buat mesin perahu n jenset buat nyalain pendingin ikan.
P. Dewanthy
Anak Balikpapan
Alumni Ilmu Komunikasi Univ. Airlangga
Define What's Wrong
Have a nice read bubuhan, and may the rest be with us.
